Articles

[Gowes] Manglayang

In Aje's News, Bike, Road Trip on March 10, 2010 by ardisama84 Tagged: , ,

Minggu 7 Maret 2010, tepat 6 hari sebelum liburan ke Medan, sesuai rencana sejak 2 minggu yang lalu, gowes bareng Cikarang-MTB kali ini akan mengambil lokasi di Gunung Manglayang, Bandung. Baca-baca dari milis, trek Manglayang yang akan dilewati kali ini kebanyakan single trek. Para peserta disarankan untuk mengedepankan “safety first”, karena treknya lumayan berat dan licin ketika hujan. Mulai dari tools kit sepeda, ban dalam cadangan, lampu (kalau-kalau gowes sampai malam) sampai knee protector disarankan untuk dibawa pada event ini.

Hmm…  di kepala sudah banyak sekali rencana upgrade sepeda untuk event ini, mulai dari rem yang ingin diganti menjadi rem cakram hidrolik, ganti rims, beli knee protector dan sadel yang sudah mulai mengeras. Apa daya anggaran belum ada, kalaupun ada, itu digunakan sebagai balance kalau-kalau terjadi hal yang diluar dugaan. Niat untuk upgrade dengan terpaksa ditunda sampai kondisi keuangan memungkinkan. Jumat sore-sore konsultasi dengan Om Asol perkara yang urgent harus diganti, setelah cek sana sini ternyata ga ada tuh, semua masih layak gowes, cuma ganti BB saja yang sudah bunyi klutak-klutuk.

Persiapan sudah OK, tinggal Knee Protector aja yang belum ada, cari-cari di sepedaku.com ternyata yang merek generic saja harganya kisaran 150-300rban, pikir-pikir ga worth it juga ngabisin duit segitu kalau nantinya jarang dipake, alhasil saya nekat saja berangkat ke Manglayang tanpa elemen safety yang satu ini. Dengan mengandalkan skill seadanya, kenekatan dan Do’a sebanyak mungkin, berangkatlah saya dan rombongan Cikarang-mtb, hari minggu, tepat pukul 06.00 WIB. Hanya lebih kurang dari 2 jam, akhirnya kami tiba di pintu gerbang exit tol buah batu, rombongan langsung menuju ke Masjid Raya Ujungberung untuk unloading peserta, disana kami disambut oleh tuan rumah komunitas GBT-mtb (Goweser Bandung Timur). Waktu menunjukkan sekitar pukul 09.00, sebagian peserta sudah menuju ke atas menuju SD Palintang, yang merupakan titik temu sebelum menjajal trek Manglayang. Tidak tanggung-tanggung 3 mobil bak terbuka disewa untuk membawa para peserta naik ke atas.

Ditengah-tengah perjalanan naik, udara khas pengunungan sudah terasa segar dan dinginnya, bagi yang sudah biasa dengan udara polusi perkotaan/lingkungan pabrik hal ini merupakan kenikmatan tersendiri. Mendekati lokasi tikum pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi mulai terlihat. Tiba di lokasi tikum beberapa goweser sudah menurunkan sepedanya dari truk, sambil setting-setting sepeda seadanya, mulai dari setting suspensi sampai nambah angin ban. Yang spesial pada event kali ini adalah khusus diliput oleh pjtv, sebuah stasiun tv lokal bandung, yang membuat peserta (terutama peserta pria) makin semangat adalah presenter acara pjtv yang geulis pisan euy, berkulit putih, berwajah sedikit oriental dengan helm khusus sepeda dan celana jins hanya sampai paha ha3… *ngiler mode on

Seperti biasa sebelum gowes selalu ada Briefing, isinya menjelaskan secara umum gambaran trek yang akan dilalui, goweser yang akan menjadi captain di depan, jangkar di tengah ataupun sweeper di belakang, untuk perihal ini Om Hanif selaku Track Builder dan Om Indra dari GBT-mtb selaku tuan rumah yang menjelaskannya secara singkat. Briefing diakhiri dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Om BI. Sinyal berangkat sudah diserukan goweser cikarang-mtb, gbt-mtb dan terjal-mtb langsung pada ngacir tuk menjajal trek Manglayang.

Awalnya trek terlihat begitu indah dengan aspal low-grade, sedikit aliran air, dan vegetasi yang rindang, namun itu hanya berlangsung kurang dari 100 meter, selanjutnya kami dihadapkan dengan single trek licin akibat hujan pada hari sebelumnya dan vegetasi yang sangat lebat, mau ga mau ya harus TTB (Tun-tun Bike). Perjalanan semakin menjauh dari desa Palintang, vegetasi yang menghadang semakin rimbun, semak berduri dan potongan ranting kayu tajam. Dalam hati berkata “Habis dah kaki gua”. Tentunya itu bukan hal terakhir yang harus dihadapi, setelahnya menghadang tanjakan curam yang mengharuskan goweser memanggul sepedanya, dilengkapi oleh hujan deras yang tiba-tiba turun, sungguh event yang “luar biasa”, untungnya perlengkapan komplit, keluarkan jas hujan pinjaman dari tas, walaupun sedikit kebesaran tapi cukup nyaman untuk melindungi tubuh dari hujan.

Hujan semakin deras, tapi yang cukup melegakan adalah rintangan semak belukar tajam sudah lewat, tidak ada lagi semak belukar :Yiippie:. Dalam kondisi hujan dan gemuruh petir yang menyambar, berkali-kali ku pandangi langit yang meneteskan bulir-bulir air di wajahku, sayang tidak ada yang mengabadikan momen ini :sok mendramatisir mode on:. Melintasi areal perkebunan dalam keadaan hujan, sungguh sensasi yang luar biasa, sesekali ada ketakutan akan tanah longsor, dalam hari berdoa “Ya Allah, lindungilah hambamu yang nekat ini”, mantapkan hati, ku melaju dengan yakin.

Hujan mulai reda, trek sudah kembali ke jalur aspal low-grade, waktu penunjukkan pukul 14.10, it’s lunch time!! sekalian Sholat. Bekal nasi bungkus dengan lauk ayam, tahu dan tempe yang disediakan panitia, dilahap habis, maklum lapar berat. Jam tangan yang berembun menunjukkan pukul 15.00, belum ada tanda-tanda dari rombongan lain, yang ada hanya kami berempat, saya sendiri, Om BI, Nte Dwi dan Nte Yogi. Penantian berakhir setelah rombongan kedua datang, namun rencana menjajal trek Palasari 2 urung dilaksanakan, atas dasar pertimbangan waktu, kondisi trek dan hujan. Rombongan pun turun menuju titik kumpul Ujungberung. Ho3.. it’s downhill time guys, bagian favorit ku setiap mengikuti event-event keluar kota. Jantung dag-dig-dug setiap melintas trek makadam, rasa takut jatuh menggebu-gebu dalam dada, berusaha agar genggaman tangan tidak terlepas dari handle bar akibat guncangan. Salah satu pelajaran nekat kali ini adalah terkadang melepaskan rem lebih aman dari pada menahannya, menekan rem berlebih bisa mengakibatkan slip yang berujung pada jumpalitan, lecet, makan batu dan cidera parah. Satu lagi pelajaran penting, jangan melakukan tindakan konyol saat downhill, bisa berujung maut, contohnya ketika melintasi hamparan pengunungan dengan areal terasering seperti di bali, naluri narsis membara, jeprat-jepret sebentar, lalu berangkat lagi, cerita punya cerita tali tas sedikit terlilit dan terasa kurang nyaman, karena malas untung berhenti, kuperbaiki dengan satu tangan tetap memegang handle bar, diujung jalan ternyata ada truk yang parkir di sebelah kiri dan menghadap ke arah ku, awalnya pengereman berlangsung sempurna, 5 meter menjelang kontak dengan truk, sepeda melambat dan dalam keadaan kontrol penuh, namun tiba-tiba ban belakang slip, sontak terkaget, truk di depan hanya berjarak 2 meter lagi, refleks ku turunkan kaki dan alhasil jumpalitan gak jelas, dalam hati yang masih dag-dig-dug diriku bersyukur masih dilindungi oleh-Nya, kupandang supir truk dan warga sekitar yang masih terbengong, singkat kutertawa atas kekonyolanku ini, mereka pun tersenyum (untung ga ada goweser yang lihat dari belakang).

Perjalanan dilanjutkan, tiba di Masjid Raya Ujungberung sekitar pukul 16.30, sempat makan batagor khas bandung, cuma Rp. 4.000,00. Setelahnya kami berangkat tuk kembali ke cikarang tepat pukul 18.00 waktu Bandung, tidur nyenyak sepanjang 2 jam perjalanan pulang.

Distance              : 16.14 KM

Average speed     : 6,4 KM/Jam

Max Speed           : 47,6 Km/jam

2 Responses to “[Gowes] Manglayang”

  1. ngapain sih naek speda jauh2 cape2in aja wkwkkw… itu ada yg cewe ya.. gile kuat jg ya

  2. ini sih banyakan angkat sepedanya daripada gowesnya..
    hidup seli onroad!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: